Search

Inisial – A

Pelampiasan rindu yang sesak dalam abjad

Month

February 2017

Selamat Pagi. Dan Hujan Yang Tak Kunjung Menyambangi Peralihan Musimnya.

Dan Buku Yang Tak Pernah Habis Makna Historisnya.

Dan Segelas Teh Yang Menghangatkan Rindu Beku Pejuangnya.
Sekepal Hal yang dirimu sukai dan tak bisa lari dari waktu. 

Tak perlu waktu banyak yang kuhabiskan tuk mengingat hal yang istimewa tentang huruf A yang dirimu miliki dari tuhan lewat perantara kedua orang tuamu.

-tersesat pagiku-

Tentang senja yang menggoda perjalanan pulangku.Menggoda ingatanku yang tak lari darimu. 

Meski tenggelam dengan namamu setidaknya aku masih memperjuangkan warna jingga indah yang ada padamu.

Ingatlah kataku ini “Surya tak lupa dan tak benci dinginnya rembulan. Rembulan pun tak lupa dan tak benci atas hangatnya sang surya”

A

Senja mungkin dapat menjauhi rembulan karena adanya bintang.

Tapi 

Senja tidak mungkin melupakan rembulan karena bintang ada disisi rembulan.

-Melodisenja-

Rembulan apa kabarmu malam ini ?
Aku tak melihatmu bersama bintang.

Mengapa kau begitu sendiri,sini biar kutemani kau dalam kesendirianmu. Mungkin kamu juga sedang menunggu. Aku dan kau punya versi terbaik yang sama. Tapi kita berbeda. Kau diatas sedangkan aku dibawah. 

Jika kau lihat dia dari atas sana bisikkan padaku apa yang sedang ia lakukan malam ini dan malam berikutnya. Dan aku akan bisikkan padamu sebuah rahasia seorang pejuang yang hampir punah.

Selamat malam.
-versi terbaikku-

“Tidak ada perjuangan yang sia-sia”
Semoga perkataan diatas itu benar. jadi akan ku tunggu.
Berpura-puralah tidak pernah terjadi agar aku masih bisa dekat denganmu walau hanya dalam persahabatan yang biasa kita lakukan.
Mungkin versi terbaikku adalah MENUNGGUMU.

Versi terbaik dalam perjuanganku yang belum usai hanya sampai 186km.
Selagi rindumu masih miliknya dan rindunya masih milikmu.

Aku akan sibuk ditiap malamku bersama kopiku dan lembar-lembar skripsiku
Jangan tanyakan rinduku milik siapa.

-menunggu waktu-

Malam itu kau tak tahu. Betapa terisaknya aku dan sesaknya dadaku setelah tahu kau telah bersama dengan ia yang tak kukenali.

Bagaikan pohon tumbang diterpa angin. Patah disetiap ranting dan terjatuh diguyur tangisan langit.

Kau tak tahu perjuanganku sebagai sebuah pohon yang selalu berupaya berdiri terlihat kuat namun roboh jua.

Kenapa ? 

Apa dia lebih baik dariku ?

Tapi aku akan mencintaimu dengan versi terbaikku 

Tapi aku akan merindukanmu dengan versi terbaikku 

-menunggumu-

Aku juga ingin jadi dia.

Aku juga ingin jadi bahagian hidupmu.

Aku juga ingin jadi isi dari setiap puisimu

Ingatlah !

-Aku menunggu-

Cukup satu.

Cukup Satu kenangan yang kau sisakan untukku.

Cukup Satu hari bersamamu melihat senyummu dimendungnya langit bulukumba kala itu.

Geliat tawamu diantara keramaian apparalang siang itu membuat mataku hanya melihat satu wanita pemalu yang sedang riang bercengkrama.

Bahasa senyummu sore itu antara pandang mataku dan matamu dibibir pantai seperti sebuah panggilan bagiku.
– Cukup satu –

Hujan datang lagi.

Rindu datang lagi.

Dan

Kenangan menyambangiku dan menyapa “apa kabar hatimu hari ini ?”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑